Senin, 11 April 2016

Makalah Tertib Lalu Lintas




Disusun oleh :
Kristianto Nugroho (C1L015024)



PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekarang ini, bersepeda motor bagi kalangan pelajar merupakan suatu hal yang biasa, sekaligus merupakan kebutuhan mereka untuk berangkat ke sekolah. Berseda motor tidak bisa lepas dari peraturan lalu lintas sekaligus rambu-rambu lalu lintas. Tetapi menurut mereka tata tertib lalu lintas bukan hal yang penting lagi. Apalagi dengan adanya teknologi yang sangat canggih sekarang ini sehingga apa yang mereka inginkan dan mereka butuhkan bisa terpenuhi dalam waktu yang singkat. Mereka menganggap bahwa teknologi yang canggih tersebut merupakan kebutuhan primer bagi mereka. Sedangkan di luar itu, ada hal yang penting bagi mereka, yang dapat menyelamatkan jiwa mereka. Itulah budaya tertib lalu lintas di jalan.
Pelajar mengira bahwa bersepeda motor itu tidak akan membuat mereka rugi dan akan selalu selamat sampai tujuan. Mereka lupa bahwa kita hidup ini tidaklah sendiri. Meskipun kita sudah hati-hati apakah orang lain akan sama dengan apa yang inginkan. Menurut data catatan PT Jasa Raharja Cabang Jatim terungkap 70 persen dari total 4.286 korban kecelakaan sepanjang Januari hingga Maret 2014 adalah usia produktif. Kebanyakan dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pegawai swasta.Menurut Kepala Cabang PT Jasa Raharja Jatim Armanda, tinggi angka kecelakaan yang dialami pelajar dan mahasiswa ini disebabkan karena faktor ego dan emosi yang labil. Ini mengidentifikasikan bahwa budaya tertib lalu lintas di jalan semakin berkurang.
Bahkan dengan bukti tersebut pelajar belum juga menyadari bahwa budaya tertib lalu lintas sangatlah penting demi keselamatan mereka sendiri. Mereka semakin tidak menghiraukan hal tersebut. Dari sinilah penulis mencoba membahas sebab budaya tertib lalu lintas semakin menurun dan bagaimana penyelesaiannya.
1.2 Batasan Masalah
Dengan masalah yang kompleks itu tentang budaya tertib lalu lintas di jalan. Maka penulis membatasi permasalahan-permasalahan mengenai hal tersebut yaitu kendala-kendala dan cara penyelesaian untuk mewujudkan budaya tertib lalu lintas di jalan pada kalangan pelajar.
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui kendala menumbuhkan budaya tertib lalu lintas di jalan yang semakin semakin menurun
1.3.2 Untuk mengetahui pentingnya memiliki budaya tertib lalu lintas di jalan
1.3.3 Untuk menemukan penyelesaian dalam menumbuhkan budaya tertib lalu lintas di jalan


BAB III
PEMBAHASAN
  1. Kendala dalam Mewujudkan Budaya Tertib Lalu Lintas di Jalan
Berkendaraan motor bagi pelajar saat ini merupakan suatu kebutuhan. Karena mereka memerlukan alat transportasi untuk bisa berangkat ke sekolah. Sehingga sebagian besar pemakai jalan yaitu dari kalangan pelajar. Diantara mereka sangat sedikit yang memiliki budaya tertib lalu lintas di jalan. Karena mereka tidak mengerti apa itu budaya tertib lalu lintas. Mereka lebih memprioritaskan dalam mengikuti perkembangan teknologi di era globalisasi kali ini. Mereka berusaha agar tidak gagap teknologi karena mereka malu untuk bergaul kalau sampai mereka ketinggalan dalam perkembangan teknologi. Anggapan mereka itu tidak salah karena kita harus selalu mengikuti perkembangan jaman. Tidak kalah penting dari itu adalah budaya tertib lalu lintas yang seharusnya dimiliki oleh kalangan pelajar. Mengapa? Karena bisa kita amati di jalan sebagian besar pemakai jalan adalah pelajar, sehingga tidak bisa dipungkiri kalau budaya tertib lalu lintas sangatlah penting untuk dimiliki oleh pelajar.
Tetapi untuk menumbuhkan ataupun mewujudkan budaya tertib lalu lintas pada kalangan pelajar sangatlah sulit. Karena mereka lebih menyukai hal-hal yang bisa membuat mereka senang. Mereka lebih menyukai hal-hal baru yang lebih menarik. Adapun beberapa kendala dalam mewujudkan budaya tertib lalu lintas di jalan pada kalangan pelajar yaitu:
1. Pengawasan yang kurang dari pihak kepolisian
Pelajar sekarang tidak akan mematuhi peraturan jika tidak ada yang mengawasinya, meskipun peraturan tersebut dibuat oleh pemerintah. Pelajar sekarang, tidak akan berubah kalau belum merasa jerah atas perbuatan yang melanggar peraturan. Kalaupun mereka melakukan pelanggaran mereka kira tidak akan ada yang melihat sikap mereka itu. Dan juga mereka menganggap apa yang mereka lakukan tidak akan diberikan sanksi karena tidak ada pengawasan dari pihak kepolisian. Pelajar sekarang dapat melakukan apapun sesuai keinginan mereka. Sehingga tertib lalu lintas kalau tidak mereka inginkan maka tidak akan mereka lakukan.
2. Kebijakan pemerintah yang belum tegas
Pemerintah memang telah membuat peraturan tentang tertib lalu lintas. Tetapi tindak lanjut dari pemerintah sangatlah kurang. Meskipun dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pasal 293 ayat 1 yang berbunyi setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari dan kondisi tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Tetapi tidak ada tindak lanjut dari kebijakan tersebut. Sehingga pelajar tidak takut jika mereka melanggar peraturan yang dibuat pemerintah. Bahkan dari mereka meremehkan fungsi lampu utama. Contohnya saja pada keadaan tertentu seperti waktu terjadi kabut seharusnya kita menyalakan lampu utama. Tetapi mereka tidak menghiraukan itu, mereka anggap itu tidak penting untuk keselamatan mereka.
3. Minimalnya pengetahuan kalangan pelajar terhadap budaya tertib lalu lintas
Kurangnya sosialisi baik dari pemerintah ataupun dari pihak kepolisian tentang pentingnya tertib lalu lintas di jalan pada kalangan remaja. Hampir tidak pernah ada sosialisasi mengenai apa yang dimaksud dengan lalu lintas, rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya yang berhubungan dengan lalu lintas. Adapun sosialisasi hanya terbatas dari beberapa perwakilan setiap sekolah yang mengikuti sosialisasi tersebut. Meskipun kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan perwakilan tiap sekolah itu dapat meneruskan informasi yang mereka dapat dari diselenggarakannya kegiatan tersebut kepada teman-teman yang lain. Tetapi itu semua belumlah efektif.
Kalaupun ada sosialisasi untuk seluruh siswa dalam suatu sekolah, itupun dapat terlaksana dalam upacara saja. Sehingga informasi yang disampaikan itu belum bisa dicerna secara keseluruhan oleh peserta upacara. Karena dengan kondisi pelajar berdiri, meskipun yang disampaikan oleh perwakilan dari pihak kepolisian mengenai pentingnya budaya tertib lalu lintas itu tidak akan didengarkan oleh peserta upacara. Yang ada dipikiran mereka adalah kapan pelakdalsanaan upacara akan segera selesai.
Dan sosialisasi yang kurang menarik merupakan salah satu kendala untuk mewujudkan budaya tertib lalu lintas. Kalangan pelajar lebih suka ketika sosialisasi itu tidaklah terlalu serius dan tidak terlalu penuh canda. Sehingga perlu sosialisasi tentang budaya tertib lalu lintas dibawakan dengan cara yang semenarik mungkin.
4. Budaya pelajar dalam berangkat sekolah
Kenapa hal ini dapat dijadikan kendala dalam menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas. Hal ini disebabkan karena mayoritas dari pelajar membudayakan berangkat sekolah yang mepet dengan waktu masuk sekolah mereka. Dengan dibayangi sanksi yang akan mereka terima di sekolah, para pelajar menjadi kurang memperhatikan rambu-rambu di jalan. Sehingga keselamatan pelajar itu sendiri dan pengguna jalan lain terancam.
5. Masih labilnya ego pelajar
Mengapa hal ini dapat menjadi kendala dalam mewujudkan budaya tertib lalu lintas di jalan. Karena dengan adanya ego pelajar yang masih labil sangat mengancam keselamatan mereka. Ketika kondisi pemakai jalan yaitu kalangan pelajar sekaligus kondisi batin mereka yang tidak stabil maka mereka tidak akan menghiraukan rambu-rambu lalu lintas yang ada. Bahkan mereka sering melamun ketika berkendara, tidak melihat warna lampu merah, berkendara dengan kecepatan tinggi, dan masih banyak lagi. Mereka bersikap seperti itu karena mereka ingin meluapkan semua egonya ketika di jalan tanpa mempertimbangkan keselamatan mereka. Sehingga kendala inilah yang sering terjadi pada kalangan remaja. Mereka belum merasa percaya diri terhadap dirinya sendiri. Ego yang labil ini tidak hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga membahayakan pemakai jalan yang lain.
2. Pentingnya Budaya Tertib Lalu Lintas di Jalan
Budaya tertib lalu lintas sangatlah bermanfaat bagi kita. Rambu-rambu lalu lintas dibuat karena untuk memberitahukan sesuatu hal baik itu bersifat peringatan, larangan, perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. Sehingga rambu-rambu tersebut untuk ditaati sekaligus dapat memberikan informasi tentang kondisi jalan yang ada saat itu. Beberapa manfaat akan kita dapatkan ketika kita memiliki budaya tertib lalu lintas, antara lain :
  • Sampai tujuan dengan selamat
Jika semua orang terutama kalangan pelajar memiliki budaya tertib lalu lintas maka keselamatanpun terjamin. Karena pelajar satu dengan yang lain saling memahami dan mengerti posisi mereka sama-sama pemakai jalan. Budaya tertib lalu lintas antara lain menjadi pengguna jalan yang baik, menaati rambu-rambu lalu lintas, serta peraturan yang mengenai lalu lintas. Sehingga mereka sampai tujuan dengan selamat.
  • Mengurangi tingkat kecelakaan pada kalangan pelajar
Menurut data catatan PT Jasa Raharja Cabang Jatim terungkap 70 persen dari total 4.286 korban kecelakaan sepanjang Januari hingga Maret 2014 adalah usia produktif. Kebanyakan dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan pegawai swasta. Sehingga dengan adanya kesadaran dalam memiliki budaya tertib lalu lintas maka dapat mengurangi tingkat kecelakaan pada kalangan pelajar.
  • Mengurangi tingkat pelanggaran lalu lintas
Dengan adanya budaya lalu lintas di jalan pada kalangan pelajar, maka tingkat pelanggaran lalu lintaspun akan berkurang. Sehingga kedamaian pemakai jalan akan lebih meningkat. Contohnya memakai mesin knalpot yang berstandart nasional makan pemakai jalan yang lain tidak akan terganggu dengan suara knalpot yang tidak berstandart nasional.
3. Penyelesaian untuk Menumbuhkan Budaya Tertib Lalu Lintas di Jalan
Mengapa menumbuhkan budaya tertib lalu lintas di jalan pada kalangan pelajar harus dimulai dari sekarang. Hal ini dikarenakan sikap pelajar untuk membudayakan tertib lalu lintas di jalan semakin menurun. Kebanyakan mereka tidak mempedulikan rambu-rambu lalu lintas yang ada di jalan. Pelajar tidak pernah merasa jerah dengan apa yang mereka lalukan, meskipun hal itu telah melanggar lalu lintas.
Hasil studi terungkap bahwa 42% dari 1260 kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada umumnya diawali dengan pelanggaran lalu lintas oleh pengemudi, sisanya sebanyak 58% disebabkan oleh kondisi kendaraan, jalan, dan alam. Melihat itu semua diperlukan kegiatan pengendalian lalu lintas secara menyeluruh dan terpadu, tidak cukup hanya penegakan hukum semata, namun perlu melakukan upaya yang ditunjang oleh seluruh komponen bangsa, adanya peran aktif dari masyarakat dalam mewujudkan rasa kesadaran dan disiplin dalam melakukan aktivitas di jalan.
Terutama di kalangan pelajar menumbuhkan budaya tertib lalu lintas di jalan sangatlah sulit. Meskipun ada penyampaian tentang hal tersebut oleh pihak kepolisian, mereka tidak mau mendengarkannnya. Dikarenakan dalam penyampian tersebut kurang adanya komunikasi antara narasumber dan pelajar. Beberapa dari mereka kurang tertarik dengan materi yang disampaikan. Padahal materi tentang budaya tertib lalu lintas sangatlah bermanfaat bagi mereka.
Penyelesaian dari masalah ini bisa dengan cara mendatangkan motivator sekaligus korban kecelakaan yang masih hidup/ narapidana karena telah melakukan pelanggaran lalu lintas. Guru terbaik adalah pengalaman, pengalaman itu datang dari diri sendiri atau orang lain. Jadi pengalaman dari orang lain sangatlah penting untuk bisa diceritakan kepada pelajar. Dengan demikian mereka bisa berkaca dari pengalaman orang tersebut. Dan mampu merubah sikap mereka yang menganggap remeh budaya tertib lalu lintas di jalan.
Kegiatan ini memang dipandang biasa, apabila diteliti secara detail lagi sebenarnya kegiatan seperti ini memiliki manfaat yang sangat besar bagi pelajar. Karena penyampaian ini secara langsung dari korban dan pelaku yang melanggar lalu lintas. Yang sering dilakukan yaitu penyampaian materi oleh pihak kepolisian dan itupun sangat monoton.
Motivator kali ini berperan mengajak pelajar untuk mengenali diri mereka sendiri. Motivator menjelaskan kewajiban dari seorang pelajar, membuka hati mereka bahwa pelajar yaitu generasi bangsa. Generasi yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan dan yang akanmewujudkan cita-cita bangsa. Generasi bangsa yang menjadi korban kecelakaan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Lalu dengan fakta yang seperti ini siapa yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan?
Setelah para pelajar mulai memahami siapa diri mereka dan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai pelajar. Kita datangkan korban kecelakaan yang masih hidup, korban kecelakaan itu diakibatkan karena telah melanggar peraturan lalu lintas. Korban kecelakaan itu dimisalkan orang A. Sedangkan kita datangkan juga narapidana karena telah melanggar peraturan lalu lintas. Narapidana tersebut kita misalkan orang B. Orang A membagikan pengalamannya waktu ia mengalami kecelakaan, menjelaskan kronologi kecelakaan tersebut. Dan penyebabnya yaitu karena oarang A tersebut telah melakukan pelanggaran lalu lintas. Ini membuktikan budaya tertib lalu lintas sangatlah penting bagi keselamatan pelajar.
Sedangkan untuk orang B menjelaskan bahwa orang tersebut masuk penjara karena telah melanggar lalu lintas. Ini membuktikan bahwa pihak kepolisian juga bertindak tegas terhadap pelaku yang melanggar lalu lintas. Sehingga dengan cara seperti mampu menumbuhkan kembali budaya tertib lalu lintas di jalan.
Setelah itu pihak kepolisian mengklarifikasi alasan pihak kepolisian menindak pelaku pelenggaran-pelanggaran lalu lintas. Dengan adanya kombinasi penyampaian dari motivator, korban dan pelaku yang melanggar lalu lintas serta pihak kepolisian sehingga mampu membuat pelajar mengubah sikap mereka dalam budaya tertib lalu lintas. Dengan kegiatan yang menarik seperti ini, pelajar mau mendengarkan sekaligus merenungkan perilaku mereka selama ini.







BAB IV
KESIMPULAN

– Kesimpulan
Kendala dalam menumbuhkan tertib lalu lintas di jalan pada kalangan pelajar antara lain pengawasan yang kurang dari pihak kepolisian, kebijakan pemerintah yang belum tegas, minimalnya pengetahuan kalangan pelajar terhadap budaya tertib lalu lintas, budaya pelajar dalam berangkat sekolah, dan masih labilnya ego pelajar. Padahal memiliki budaya tertib lalu lintas sangatlah bermanfaat bagi pelaja antara lain sampai tujuan dengan selamat, mengurangi tingkat kecelakaan pada kalangan pelajar, dan mengurangi tingkat pelanggaran lalu lintas. Oleh karena penyelesaian dari masalah itu adalah dengan mendatangkan motivator, koran dan pelaku yang melanggar lalu lintas, serta pihak kepolisian. Karena dengan adanya korban kecelakaan yang masih hidup dan narapidana akibat melanggar lalu lintas yang menyampaikan mampu mengubah sikap pelajar terutama dalam menumbuhkan budaya tertib lalu lintas di jalan.
– Saran
Pihak kepolisian lebih tegas dalam menindak pelaku yang melanggar peraturan lalu lintas tanpa memandang siapa pelaku tersebut.













Rabu, 09 Maret 2016

Manajemen Pemasaran



MAKALAH MANAJEMEN PEMASARAN
ANALISIS PASAR KONSUMEN, PASAR BISNIS,
DAN PERILAKU PEMBELI



Disusun oleh :
1.    Kristianto Nugroho                             (C1L015024)
2.    Latifatul Khoeriyah                             (C1L015025)
3.    Norisa Adi Wibowo Susilo                (C1L0150)
4.    Titik Uji                                                (C1L015023)
5.    Retno Dwi Wijayanti                          (C1L015046)
6.    Aisyah                                                  (C1L015009)


PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NGERI JENDRAL SOEDIRMAN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Alloh Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat, hidayah, dan nikmat Nya kepada kita, sehingga kami masih diberi nikmat sehat dan nikmat waktu untuk dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Manajemen Pemasaran dalam pembuatan makalah yang berjudul “Analisis Pasar Konsumen,Pasar Bisnis,dan Perilaku Konsumen”
Pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan banyak pihak yang telah banyak membantu baik dari segi material maupun non material. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada :
1.      Alloh SWT Tuhan semesesta alam, pengatur segalanya, yang telah memberikan kami kesehatan sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan makalah ini.
2.      Ibu Viviana Mayasari,S.E.,M.Sc. selaku dosen mata kuliah Manajemen Pemasaran, yang telah membimbing kami dalam proses penyusunan makalah ini.
3.      Orang Tua kami, yang telah memberikan bantuan baik material maupun non material.
4.      Teman-teman kelas Jurusan Pendidikan Ekonomi 2015 yang telah memberi semangat dan motivasinya agar penyusunan makalah ini cepat terselesaikan.
Penyusun menyadari bahwa isi makalah ini tentu masih masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu,penulis berharap kepada pembaca untuk memberikan saran dan kritik demi perbaikan di makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat,Terima Kasih.
                                                                                   
                                                                                   
                                                                                                Purwokerto,5 Maret 2016



                                                                                                             Penyusun



DAFTAR ISI

Kata Pengantar ..................................................................................................................  i
Daftar Isi ...........................................................................................................................  ii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2 Tujuan Penulisan makalah................................................................................ 2
1.3 Rumusan Masalah ...........................................................................................  2
BAB II. PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................................
3.2 Saran ...............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................



















BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
        Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan melayani kebutuhan dan keinginan konsumen sasaran. Tetapi “mengenal konsumen” tidaklah mudah. Para pelanggan mungkin saja menyatakan kebutuhan dan keinginannya sedemikian rupa tapi bertindak yang sebaliknya. Mereka mungkin tidak memeahami motivasi mereka yang lebih mendalam atau mereka mungkin bereaksi terhadap pengaruh yang yang mengubah pikiran mereka,maka dari itu para produsenharus mengetahui pasar konsumen yang menjadi sasarannya dan memahami pula perilaku konsumen sasarannya.
        Pasar bisnis meliputi semua perusahaan atau organisasi yang membeli barang dan jasa yang digunakan untuk membuat produk dan jasa yang lain untuk dijual,disewakan,atau untuk pasokan kepada yang lain. Termasuk juga didalamnya adalah perusahaan retail dan grosir yang memperoleh barang-barang untuk dijual atau disewakan kembali,dan mengambil keuntungan darinya. Perusahaan yang menjual kepada organisasi bisnis yang lain,harus melakukan yang terbaik untuk memahami pasar bisnis dan perilaku pembeli bisnis.
1.2  RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Apa definisi dan perbedann dari pasar konsumen dan pasar bisnis?
b.      Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku pembeli?
c.       Bagaimana proses pengambilan keputusan pembelian bisnis?
d.      Apa perbedaan dari pasar institusional dan pasar pemerintah

1.3  TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Tujuan dari pembuatan Makalah ini adalah sebagai berikut :
a.       Untuk memenuhi tugas Manajemen Pemasaran mengenai bab analisis pasar konsumen,pasar bisnis,dan perilaku konsumen.
b.      Makalah ini dibuat untuk mengetahui definisi dan perbedaan dari pasar konsumen dan pasar bisnis.
c.       Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembeli.
d.      Memahami proses pengambilan keputusan pembelian bisnis.
e.       Mengetahui perbedaan pasar institusional dan pasar pemerintah.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI PASAR KONSUMEN DAN PASAR BISNIS
          Pasar dalam dunia bisnis merupakan suatu komponen utama yang harus sangat diperhatikan oleh perusahaan atau pelaku usaha lainnya. Pasar terbagi atas beberapa jenis dan macam diantaranya yang sering dibahas adalah pasar konsumen dan pasar bisnis. Pasar konsumen dan pasar bisnis memiliki pengertian, karakteristik dan sebagainya yang memiliki pengaruh yang sama pentingnya antara satu dengan lainya.

            Pasar konsumen adalah sekelompok pembeli yang melakukan pembelian suatu barang untuk dikonsumsikan dan bukan untuk dijual atau diproses lebih lanjut. Kelompok ini pada umumnya terdiri dari pembeli individual/pembeli rumah tangga (non bisnis).

Sedangkan pasar bisnis adalah pembeli yang melakukan pembelian suatu barang untuk dipergunakan dalam memproduksi produk atau dengan tujuan dijual lagi atau disewakan kepada pihak lain dengan mengambil keuntungan. Kelompok ini pada umumnya terdiri dari perusahaan atau organisasi yang berorientasi profit (bisnis).

Pasar konsumen dan pasar bisnis tentunya  memiliki karakteristik yang berbeda diantaranya yaitu :
asar konsumen
Pasar bisnis
1.Segmentasi pasar demografis
1. Segmentasi pasar emporografis

2. Perspektif pasar nasional

2. Perspektif pasar global

3. Penekanan taktik pemasaran pangsa pasar

3. Penekanan taktik pemasaran kinerja keuntungan

4. Interaksi jual beli transaksional

4. Interaksi jual beli kemitraan

5. Tidak ada pelanggan utama

5. Memiliki pelanggan utama

6. Pendidikan pelanggan masih lemah

6. Pendidikan pelanggan kuat

7.Daur hidup produk lebih panjang

7. Daur hidup produk lebih pendek

8. Merek produk masih bersifat individual

8. Merek produk masih bersifat perusahaan

9. Layanan yang disediakan belum tentu tersedia

9. Layanan yang disediakan telah tersedia sebelum dan sesudah transaksi
10. Penekanan promosi menggunakan iklan

10. Penekanan promosi menggunakan personal selling

11. Target promosi fokus pada penempatan dan layanan produk

11. Target promosi fokus ke merangsang terjadinya sales call

12. Kompleksitas saluran pemasaran masih sederhana

12. Saluran pemasaran kompleks
13. Pengetahuan pasar masih lemah

13. Pengetahuan pasar kuat
14. Dan sebagainya
14. Dan sebagainya

2.2 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU PEMBELI
           






A.    Faktor Budaya
Faktor – faktor budaya memiliki pengaruh yang paling meluas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Yang dalam hal ini akan dibahas dalam 3 hal yaitu :

1.      Kultur
Kultur atau kebudayaan adalah determinan paling fundamental dari keinginan dan perilaku manusia. Kultur atau kebudayaan merupakan suatu hal yang selalu dinamis,sehingga saat terjadi pergeseran budaya Produsen selalu mencoba untuk menemukan produk baru yang mungkin akan diinginkan. Contohnya,pergeseran buday kearah minat yang lebih besar pada kesehatan dan kebugaran telah menciptakan suatu industri besar peralatan dan pakaian kebuguran,makanan rendah lemak dan alami,serta jasa kesehatan dan kebugaran.

2.      Sub –kultur
Sub kebudayaan meliputi kewarganegaraan,agama,kelompok ras,dan daerah geografis. Banyak sub kebudayaan yang membentuk segmen pasar penting,dan orang pemasaran sering kali merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Contonya,di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam,masyarakat yang beragama Islam inilah yang menjadi sasaran orang pemasaran busana muslim,peralatan solat,dan lain-lain yang berhubungan dengan keagamaan.

3.      Kelas sosial
Kelas sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja,misalnya pendapatan, tetapi ditentukan sebagai suatu kombinasi pekerjaan ,pendapatan, pendidikan, kesejahteraan, dan variabel lainnya. Orang-orang pemasaran tertarik pada kelas sosial karena orang-orang dalam suatu kelas sosial cenderung menunjukkan perilaku membeli yang serupa. Kelas sosial menunjukan pemilihan produk dan merek tertentu dalam segala hal yang diperlukan untuk menunjang kehidupannya. Misalnya,orang-orang yang berasal dari kelas atas cenderung membeli produk yang bermerk,sedangkan orang-orang dari kelas menengah kebawah cenderung memilih produk yang tidak bermerk namun memiliki fungsi yang sama. Hal itu dikarenakan daya beli setiap kelas sosial berbeda.

B.     Faktor Sosial
Perilaku konsumen juga dipenngaruhi oleh faktor-faktor sosial,seperti kelompok kecil,keluarga,serta aturan dan status sosial konsumen.

1.      Kelompok Acuan
Kelompok acuan berfungsi sebagai titik banding/referensi langsung maupun tidak langsung yang membentuk sikap maupun perilaku seseorang. Orang-orang pemasaran mencoba menemukan kelompok-kelompok acuan dari pasar sasaran mereka. Kelompok acuan mengarahkan seseorang pada perilaku dan gaya hidup baru,mempengaruhi sikap dan konsep diri orang tersebut,dan memberikan dorongan untuk menyesuaikan diri sehingga akan mempengaruhi pilihan produk dan merek orang tersebut.

2.      Keluarga
Anggota keluarga dapat sangat mempengaruhi perilaku pembeli. Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat,dan pengaruh tersebut telah di telti secara ekstensif. Orang pemasaran tertarik pada peran dan pengaruh seorang suami,istri,maupun anak-anak dalm pembelian produk dan jasa yang berbeda. Misalnya,sebuah keluarga berencana untuk membeli sebuah mobil,maka dalm proses pembeliannya tersebut suami-istri maupun anak akan berunding mengenai model maupun merek mobil yang akan mereka beli.

3.      Peran dan Status
Setiap orang membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Seseorang sering kali memilih produk yang menunjukan status mereka dalam masyarakat. Misalnya,seorang pengusaha akan membeli sebuah rumah mewah dan megah,sedangkan seorang buruh hanya bisa menyewa rumah kecil dan sederhana.

C.    Faktor Kepribadian
Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur pembeli dan tahap siklus hidup,pekerjaan,situasi ekonomi,gaya hidup,serta kepribadian dan konsep diri.

1.      Umur dan Tahap Siklus Hidup
Seseorang mengubah barang dan jasa yang mereka beli semasa hidup mereka. Selera terhadap makanan,pakaian,meubel, dan rekreasi sering kali berhubungan dengan usia. Orang pemasaran sering kali menetapkan pasar sasaran mereka berdasarkan tahap siklus hidup dan mengembangkan produk yang sesuai serta rencana pemasaran untuk setiap tahapnya.

2.      Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Pekerja kasar cenderung membeli pakaian kerja kasar,sedangkan pekerja kantoran membeli setelan bisnis. 

3.      Situasi Ekonomi
Situasi ekonomi mempengaruhi pilihan produk setiap orang. Orang-orang pemasaran akan mengamati tren pendapatan,tabungan pribadi,dan tingkat bunga. Jika indikator-indikator ekonomi menunjukkan datangnya resesi,orang pemasaran dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang,mereposisidan menetapkan harga dengan produk mereka dengan cepat.

4.      Gaya Hidup
Konsep gaya hidup dapat membantu orang pemasaran memahami nilai-nilai konsumen yang berubah dan pengaruhnya pada perilaku pembeli. Misalnya,Anna menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa dikampusnya dan sebagai anak yang patuh pada orang tua dirumahya. Ia menjalani kedua peran tersebut,dan caranya meramu peran-peran tersebut menunjukkan gaya hidupnya.

5.      Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian bisa berguna untuk menganalisis perilaku konsumen atas suatu produk maupun pilihan merek. Misalnya, pembuat kopi telah mengetahui bahwa para pecandu kopi cenderung mudah bergaul dan senang berkumpul. Jadi untuk menarik pelanggan,Starbucks dan kedai kopi lain menciptakan suatu lingkungan dimana orang-orang dapat bersantai dan bersosioalisasi sambil memnimum secangkir kopi hangat.

D.    Faktor Kejiwaan
Pilihan-pilihan seseorang dalam membeli dipengaruhi lagi oleh 4 faktor psikologis diantaranya yaitu motivasi,persepsi,pengetahuan,serta keyakinan dan sikap.
1.      Motivasi
Motivasi yaitu kebutuhan yang berasal dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa keanggotaan kelompok. Ketika seseorang mengamati sebuah merek, ia akan bereaksi tidak hanya pada kemampuan nyata yang terlihat pada merek tersebut, melainkan juga melihat petunjuk lain yang samar seperti wujud, ukuran, berat, bahan, warna dan nama merek tersebut yang memacu arah pemikiran dan emosi tertentu.
2. Persepsi
Seseorang yang termotivasi siap untuk segera melakukan tindakan. Bagaimana tindakan seseorang  yang termotivasi akan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi tertentu. Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang digunkan individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan sebuah gambaran (Bernard Barelson, dalam Kotler 2003:217).
Setiap persepsi konsumen terhadap sebuah produk atau merek yang sama dalam benak setiap konsumen berbeda-beda karena adanya tiga proses persepsi yaitu:
Perhatian selektif
Perhatian selektif dapat diartikan sebagai proses penyaringan atas berbagai informasi yang didapat oleh konsumen. Konsumen lebih cenderung memperhatikan rangsangan yang berhubungan dengan kebutuhnnya saat ini, memperhatikan rangsangan yang mereka antisipasi dan lebih memerhatikan rangsangan yang memiliki deviasi besar terhadapa ukuran rangsangan normal seperti, orang cenderung akan memperhatikan iklan yang menawarkan potongan dan bonus sebesar rp.100.000 ketimbang iklan komputer yang hanya memberikan bonus atau potongan yang bernilai rp.50.000
Distorsi Selektif
Distorsi selektif merupakan proses pembentukan persepsi yang dimana pemasar tidak dapat berbuat banyak terhadap distorsi tersebut. Hal ini karena distorsi selektif merupakan kecenderungan orang untuk mengubah informasi menjadi bermakna pribadi dan menginterpretasikan informasi yang didapat dengan cara yang akan mendukung pra konsepsi konsumen.
Ingatan Selektif
Orang akan banyak melupakan banyak hal yang mereka pelajari namun cenderung akan senantiasa mengingat informasi yang mendukung pandangan dan keyakinan mereka. Karena adanya ingatan selektif, kita cenderung akan mengingat hal-hal baik yang yang disebutkan tentang produk yang kita sukai dan melupakan hal-hal baik yang disbutkan tentang produk yang

c. Pembelajaran
Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Banyak ahli pemasaran yang yakin bahwa pembelajaran dihasilkan melalui perpaduan kerja antara pendorong, rangsangan, isyarat bertindak, tanggapan dan penguatan. Teori pembelajaran mengajarkan kepada para pemasar bahwa mereka dapat membangun permintaan atas suatu produk dengan mengaitkan pada pendorongnya yang kuat, menggunakan isyarat yang memberikan motivasi, dan memberikan penguatan positif karena pada dasarnya konsumen akan melakukan generalisasi terhadap suatu merek. Contohnya, konsumen yang pernah membeli komputer merek IBM yang mendapatkan pengalaman menyenangkan dan persepsi yang positif akan mengasumsikan bahwa merek IBM merupakan merek komputer yang terbaik, ketika konsumen akan membeli printer merek IBM mungkin konsumen juga berasumsi hal yang sama bahwa IBM menghasilkan printer yang baik.
d. Keyakinan dan Sikap
Keyakinan dapat diartikan sebgai gambaran pemikiran seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan orang tentang produk atau merek akan mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Contohnya studi tentang keyakinan merek yang menemukan bahwa konsumen sama-sama menyukai Diet Coke dan Diet Pepsi ketika mencicipi keduanya dalam tanpa merek. Tetapi, ketika mencicipi Diet yang diberi tahu mereknya, konsumen memilih diet Coke 65% dan Diet Pepsi 23%. Dalam contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa keyakinan akan merek dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
2.3 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Bisnis
A. Peran Pembelian
Terdapat lima peran yang dimainkan orang dalam mengambil sebuah keputusan pembelian, yaitu:
  • Pencetus, orang yang pertama kali mengusulkan gagasan untuk membeli produk atau jasa.
  • Pemberi pengaruh, seseorang dengan pandangan atau saran yang mempengaruhi keputusan.
  • Pengambil keputusan, seseorang yang memutuskan setiap komponen dari suatu keputusan pembelian – apakah akan membeli atau tidak membeli.
  • Pembeli, orang yang melakukan pembelian yang sesungguhnya.
  • Pemakai, seseorang yang mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang bersangkutan.
B. Jenis Perilaku Pembelian
  • Perilaku pembelian yang rumit. Konsumen terlibat dalam pembelian yang rumit dan menyadari adanya perbedaan signifikan diantara berbagai merek. Dan biasanya merupakan kasus untuk produk yang mahal,jarang dibeli, beresiko, dan sangat mengekspresikan pribadi. Biasanya konsumen tidak banyak tahu tentang kategori produk tersebut dan harus belajar banyak.
  • Perilaku pembelian pengurang disonansi. Kadang-kadang konsumen terlibat dalam sebuah pembelian namun melihat sedikit perbedaan dalam merek-merek. Hal ini didasari karena barang tersebut mahal, jarang dilakukan, dan beresiko. Biasanya konsumen akan berkeliling untuk mempelajari apa yang tersedia namun akan membeli bilamana dirasa tepat dan dirasa nyaman.
  • Perilaku pembelian karena kebiasaan. Konsumen kurang terlibat dalam pembelian produk yang dibeli dan tidak adanya perbedaan merek yang signifikan. Jika pun harus membeli produk tersebut hal itu dikarenakan keterbiasaan bukan pada kesetiaan merek yang kuat.
  • Perilaku pembelian yang mencari variasi. Dalam beberapa situasi tertentu pembelian ditandai dengan keterlibatan konsumen yang rendah namun perbedaan merek yang signifikan. Sehingga konsumen sering melakukan perpindahan merek.
2. Model Proses Pembelian Lima Tahap
1. Pengenalan Kebutuhan
Di sini pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan. Kebutuhan dapat dipicu oleh rangsangan internal (dari dalam diri) dan rangsangan eksternal (lingkungan).
Pada tahap ini pemasar perlu mengenal berbagai hal yang dapat menggerakkan kebutuhan atau minat tertentu  konsumen. Para pemasar perlu meneliti konsumen untuk memperoleh jawaban apakah kebutuhan yang dirasakan atau masalah yang timbul, apa yang menyebabkan semua itu muncul dan bagaimana kebutuhan atau masalah itu menyebabkan seseorang mencari produk tersebut.

2. Pencarian Informasi
Seorang konsumen yang sudah tertarik mungkin mencari informasi lebih banyak informasi, tetapi mungkin juga tidak. Bila dorongan konsumen dan produk yang dapat memuaskan ada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan akan membelinya. Bila tidak, konsumen dapat menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau melakukan pencarian informasi yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut.

Konsumen dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber yaitu :
  • Sumber pribadi : keluarga, teman dan tetangga.
  • Sumber komersial : iklan, wiraniaga, agen, kemasan, pajangan. 
  • Sumber publik : media massa, organisasi penilai konsumen. 
  • Sumber pengalaman : penanganan, pemeriksaan, menggunakan produk.

Dalam hal ini perusahaan harus merancang bauran pemasannya untuk membuat calon pembeli menyadari dan mengetahui merknya. Perusahaan harus cermat mengenali sumber informasi konsumen dan arti penting dari setiap sumber.

3. Evaluasi Alternatif
Pada tahap ini konsumen dihadapkan pada beberapa pilihan produk yang akan dibelinya. Untuk itu konsumen melakukan evaluasi terhadap barang mana yang benar-benar paling cocok untuk dibeli sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif barang yang akan dibeli tergantung pada masing-masing individu dan situasi membeli spesifik.

Pemasar harus mempelajari pembeli untuk mengetahui bagaimana sebenarnya mengevaluasi alternatif merek. Bila mereka mengetahui proses evaluasi apa yang sedang terjadi, pemasar dapat membuat langkah-langkah untuk mempengaruhi keputusan pembeli.

4. Keputusan Membeli
Keputusan membeli merupakan tahap dari proses keputusan membeli yaitu ketika konsumen benar-benar membeli produk. Pada umumnya, keputusan membeli yang dilakukan konsumen adalah membeli poduk yang paling disukai, tetapi ada dua faktor yang muncul antara niat untuk membeli dan keputusan untuk membeli yaitu sikap orang lain dan situasi yang tidak diharapkan. Konsumen umumnya membentuk niat membeli berdasarkan pada faktor pendapatan, harga dan manfaat produk, akan tetapi peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan bisa mengubah niat pembelian. Jadi pilihan dan niat untuk membeli tidak selalu berakhir pada keputusan membeli barang yang sudah dipilih.

5. Tingkah Laku Pasca Pembelian
Setelah membeli poduk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas terhadap barang yang dibeli. Pembeli akan menentukan puas atau tidak itu terletak pada hubungan antara harapan konsumen dan prestasi yang diterima dari produk. Bila produk tidak memenuhi harapan, konsumen akan merasa tidak puas. Kegiatan pemasar terus berlanjut dalam menanggapi kepuasan dan ketidakpuasan ini agar daur hidup produknya tidak menurun.